<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AnakFK.com</title>
	<atom:link href="http://www.anakfk.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.anakfk.com</link>
	<description>Blog Mahasiswa Kedokteran Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 Dec 2011 15:03:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Makelar Pasien dan Cara Memandangnya dari Sudut Pancasila</title>
		<link>http://www.anakfk.com/makelar-pasien-dan-cara-memandangnya-dari-sudut-pancasila/</link>
		<comments>http://www.anakfk.com/makelar-pasien-dan-cara-memandangnya-dari-sudut-pancasila/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 14:27:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fadli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anakfk.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu, di situs Kompasiana saya membaca sebuah artikel yang ditulis oleh salah seorang dokter spesialis. Tulisan beliau sangat membukakan mata saya mengenai realita yang terjadi di sebuah]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, di situs Kompasiana saya membaca sebuah artikel yang ditulis oleh salah seorang dokter spesialis. Tulisan beliau sangat membukakan mata saya mengenai realita yang terjadi di sebuah pelayanan kesehatan. Banyak hal-hal yang tidak kami pelajari disini, namun baru kami mendapati masalah itu saat sudah menginjakkan kaki dan mengabdi di pelayanan kesehatan. Salah satunya adalah terkait makelar pasien.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-12" title="Makelar-dan-Cara-Pasien-Memandangnya-AnakFK-Mahasiswa-Kedokteran" src="http://www.anakfk.com/wp-content/uploads/2011/12/Makelar-dan-Cara-Pasien-Memandangnya-AnakFK-Mahasiswa-Kedokteran.jpg" alt="" width="600" height="300" /><span id="more-11"></span>Dokter itu berkisah dalam tulisannya sebagai berikut :</p>
<p>“Siang, dok. Pasiennya mulai ramai, ya?” Kata seorang bapak berkaca mata dan berdasi berpenampilan rapi sekali.<br />
“Lumayanlah. Dari farmasi mana?” Tanyaku, biasanya sih jam 1 siang saat pasien sudah agak sepi dan banyak ‘medical representatif’ (sales farmasi) datang mempromosikan obat-obat paten mereka.</p>
<p>“Bukan, saya bukan sales farmasi, dok. Saya perwakilan rumah sakit ‘X’ di ‘Y’ (menyebut salah satu negara tetangga).” Dia sangat sopan berbicara.</p>
<p>“Wah, kok perwakilan rumah sakit hebat kayak gitu datang ke rumah sakit begini? Ada apa, ya?” Agak penasaran juga aku.</p>
<p>“Rumah sakit bapak ini sudah lumayan besar omzet per bulannya, lho. Kami amati persentase hunian tempat tidurnya lebih 80%. Dan beberapa pasien yang melakukan tindakan di rumah sakit kami pernah ada riwayat berobat ke rumah sakit ini. Jadi rumah sakit ini bisa jadi pasar potensial kami.” Wah, gaya bicaranya memikat dan dia pun berbicara tentang beberapa pelayanan canggih yang mengagumkan di rumah sakit taraf internasionalnya. Sampai akhirnya tawaran itu diucapkannya.</p>
<p>“Begini dok. Untuk pasien yang akan pasang cincin di jantung, kemoterapi kangker, cangkok ginjal dan hati, daripada dokter kirim ke Jakarta dan toh tidak bagus juga hasilnya. Bahkan ujung-ujungnya masih ke kami juga, bagusnya dokter rujuk ke rumah sakit kami. Cukup dokter berikan surat rujukan dengan tanda tangan dokter. Dan tiap mengirim 1 pasien ke kami, kalau terkonfirmasi, dokter akan kami transfer uang 1000 dollar. Jangan kaget, dok. Di negara ini banyak kok dokter yang sudah kerja sama dengan kami. Saling bantu demi kebaikan pasien, lah..” Katanya santai.</p>
<p>Dia pun permisi keluar dengan gayanya yang elegan.<br />
Waw! Selama ini kalau kita merujuk, semua dilakukan dengan suka rela dan karena alasan nasionalisme, masih merujuknya ke rumah sakit lebih besar di kota ini atau langsung ke Jakarta. Lalu ada tawaran menggiurkan, merujuk dengan tawaran uang langsung ke negara tetangga.</p>
<p>Dia adalah makelar rumah sakitnya dan kalau aku menuruti bujukannya berarti aku menjadi makelar pasien. Merujuk karena motivasi uang, yang dahulu diharamkan di kode etik sekarang menjadi bagian dari pemasaran institusi kesehatan.</p>
<p>Si bapak pernah 2 kali menanyakan ulang tawarannya, tetapi masih ditolak halus dengan dua alasan. Pertama, masih belum terlalu butuh uang tambahan dan kedua, aku sangat geram dengan Gayus si makelar pajak, kenapa harus aku pula yang menjadi makelar kasus pasien-pasienku.</p>
<p>Teman, mari doakan supaya semua dokter menolak menjadi makelar pasien-pasiennya untuk rumah sakit-rumah sakit canggih dimana pun berada yang kebablasan cara marketingnya.<br />
Semoga!</p>
<p>Sebuah tulisan dari kejadian yang nyata. Bahwa di luar sana masih banyak praktek-praktek seperti itu dalam bentuk yang macam-macam. Intinya mempunyai tujuan satu, memperkaya seseorang, dan merugikan orang lain yang seharusnya masih bisa diselamatkan kesehatannya melalui biaya yang wajar dan murah.</p>
<p><strong>Hubungan dengan Pancasila</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika kasus ini ditarik ke dalam pancasila, butir yang paling sesuai adalah butir ke 2 pancasila, yakni “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Maksudnya adalah dokter merupakan profesi yang sangat erat kaitannya dengan kegiatan-kegiatan kemanusiaan. Ketika sudah menyentuh masalah jual-beli pasien, nilai-nilai kemanusiaan ini bisa dikatakan telah luntur.</p>
<p>Dalam menangani seorang pasien ada prinsip etika yang harus terus dijaga oleh seorang dokter dan tenaga kesehatan lainnya, yakni menghargai sisi kemanusiaan tiap individu dari sisi mana saja. Tak hanya dari sisi pelayanan, namun bisa juga dari sisi pembiayaannya.</p>
<p>Pada kasus di atas, sikap dokter yang bersangkutan sudah sangat tepat. Mengingat beliau tidak mementingkan kepentingan pribadinya semata melainkan juga melihat kepentingan dan manfaat bagi si pasien.</p>
<p>Manfaat inilah yang membuat pasien akan mendapatkan pelayanan sesuai yang seharusnya, tidak malah overuse pelayanan kesehatan. Dari sinilah sebenernya seorang dokter harus memaknai secara lebih komprehensif pemaknaan pancasila ini, terutama pada poin ke 2 yakni Kemanusiaan yang adil dan beradab.</p>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anakfk.com/makelar-pasien-dan-cara-memandangnya-dari-sudut-pancasila/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://www.anakfk.com/hello-world/</link>
		<comments>http://www.anakfk.com/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 14:45:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fadli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anakfk.com/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anakfk.com/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

